Beberapa orang, baik tua maupun muda, memiliki kebiasaan mengunyah es batu. Hal ini biasanya dilakukan di cuaca panas, misalnya siang hari yang terik. Rasanya mungkin menyegarkan dan menyenangkan. Namun, sebenarnya, kebiasaan mengunyah es batu menjadi salah satu tanda yang harus diwaspadai.
Di samping itu, kebiasaan mengunyah es batu dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan gigi dan mulut. Menurut hellosehat.com, kebiasaan mengunyah es batu menjadi salah satu bentuk pica.
Pica artinya sebuah kondisi medis yang berupa kebiasaan mengunyah benda-benda yang tidak lazim. Biasanya, pica ini dialami oleh anak-anak. Terutama bayi dan balita yang berada dalam fase oral. Lebih lanjut lagi, pica menjadi dampak tubuh kekurangan nutrisi.

Bahaya Mengunyah Es Batu
Secara khusus, kebiasaan mengunyah es batu dikenal sebagai pagophagia. Pagophagia sebagai indikasi penyakit pada tubuh manusia. Bisa jadi indikasi psikologis seperti gangguan makan atau cara menyembunyikan stress. Itulah mengapa orang yang suka mengunyah es batu sebaiknya mewaspadai kebiasaan tersebut.
Alodokter.com menyebutkan pagophagia menjadi salah satu gejala anemia defisiensi besi. Dikenal juga sebagai kurangnya pasokan sel darah merah. Sebuah teori menyebutkan bahwa pasokan darah ke otak dapat ditingkatkan dengan mengkonsumsi es batu. Dengan demikian, gejala anemia dapat dirasa berkurang.
Adapun beberapa gejala anemia meliputi kulit pucat, bibir dan area mulut yang kering, pembengkakan lidah, serta kuku yang rapuh. Namun gejala anemia ini tidak semata hilang dengan mengunyah es batu. Lebih baik mendapatkan penanganan dokter.
Jika tidak ditangani dengan baik, anemia dapat menimbulkan beberapa komplikasi yang membahayakan kesehatan, seperti yang disebutkan dalam alodokter.com. Komplikasi yang mungkin terjadi berupa:
1. Gangguan Jantung
Seperti yang sudah disebutkan, penderita anemia mengalami kurangnya pasokan darah merah. Jika pasokan darah berkurang, oksigen pun tidak diedarkan secara merata ke seluruh tubuh, termasuk ke jantung.
Hasilnya, kinerja jantung memompa darah akan lebih berat untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Kinerja berat jantung lama-kelamaan akan berdampak pada pembengkakan jantung. Kemudian yang terburuknya adalah gagal jantung.

2. Terhambatnya Pertumbuhan bagi Ibu Hamil dan Anak-Anak
Kurangnya pasokan darah merah tentu saja mengakibatkan kurangnya zat besi. Jika tubuh mengalami kekurangan zat besi, kekebalan tubuh akan menurun. Otomatis tubuh rentan terkena infeksi.
Hal ini dapat memberikan dampak buruk bagi anak-anak dan ibu hamil. Pertumbuhan anak-anak dengan anemia dapat terhambat. Ibu hamil dengan anemia memiliki risiko kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan rendah.

Bahaya Mengunyah Es Batu bagi Kesehatan Gigi dan Mulut
Selain menjadi indikasi anemia, kebiasaan mengunyah es batu juga memberikan dampak buruk bagi kesehatan gigi dan mulut. Berikut adalah beberapa efek samping mengunyah es batu bagi kesehatan gigi dan mulut seperti yang dilansir dari parapuan.co.
1. Merusak Email Gigi
Gregg Lituchy, seorang dokter gigi estetika, menyatakan salah satu kebiasaan mengunyah es batu dapat membuat email gigi menjadi aus. Dengan ausnya email gigi, dapat terjadi fraktur mikro. Jika fraktur mikro sudah terjadi, gigi bisa patah. Jika kondisi ini sudah parah, pasien dengan email gigi yang rusak sebaiknya menjalani terapi saluran akar gigi.

2. Gigi Menjadi Sensitif
Gregg Lituchy menambahkan dampak lain dari kebiasaan mengunyah es batu. Semakin sering berinteraksi dengan es batu, gigi menjadi mudah retak ataupun bisa terkelupas. Sehingga tambalan dan mahkota gigi menjadi rusak. Risiko terburuknya adalah terjadinya gigi patah.
Lebih lanjut, otot radang bisa menjadi sakit. Akibatnya, gigi menjadi sensitif. Pasien dengan gigi sensitif akan merasa tidak nyaman saat mengkonsumsi sesuatu yang dingin atau panas.

3. Infeksi Gusi
Lituchy menambahkan potensi kerusakan lain yang ditimbulkan oleh kebiasaan mengunyah es. Potongan es batu yang tajam rawan menusuk gusi. Jika gusi sering tertusuk oleh es batu, maka kemungkinan besar terjadi masalah gusi. Masalah gusi yang paling mungkin adalah infeksi gusi atau bahkan radang gusi/gingivitis.

Cara Berhenti Mengunyah Es Batu
Setelah mengetahui indikasi dan efek kebiasaan mengunyah es batu, baiknya kebiasaan ini dikurangi. Sembari menjalani penanganan sesuai dengan indikasi, berikut beberapa hal yang bisa dicoba secara mandiri. Tentu saja dengan tujuan mengurangi kebiasaan mengunyah es:
- Membatasi konsumsi es batu. Boleh mengkonsumsi, tapi sewajarnya saja.
- Jangan menyediakan es batu di rumah atau tempat kerja. Dengan demikian, keinginan mengkonsumsi es bisa dikurangi.
- Melakukan pengalihan dengan beraktivitas lain seperti bekerja, berolahraga, melakukan hobi. Semakin produktif, keinginan kebiasaan mengunyah es batu bisa diredam.
- Mengganti es batu dengan makanan lain. Lebih dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan sehat. Misalnya sayur-sayuran. buah-buahan, atau permen karet. Adapun sayur-sayuran dan buah-buahan yang dianjurkan adalah irisan apel, wortel, kubis, dan semacamnya.
- Melelehkan es batu di mulut. Hal ini disarankan oleh Matthew Cooke, seorang profesor di bidang anestesiolog dan gigi anak Universitas Pittsburgh. Dengan melelehkan es di mulut, rasa segar dan sejuk di mulut akan bertahan lebih lama. Lebih dari itu, gigi dan gusi akan tetap terjaga.
- Mengganti es batu dengan pilihan lain yang lebih lembut. Keras dan tajamnya es batu bisa merusak gusi. Cooke menyarankan es serut atau bentuk lain yang lebih lembut sebagai alternatif pengganti es batu. Dengan demikian, kesehatan gusi dapat terjaga.
Hal-hal di atas adalah penanganan yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Namun, penanganan tersebut tidak cukup jika kebiasaan mengunyah es batu adalah indikasi penyakit lain.
Adapun indikasi-indikasi penyakit yang ada sebaiknya ditindaklanjuti. Dengan cara menghubungi dokter dan melakukan pemeriksaan kesehatan. Sehingga semua indikasi tersebut dapat diselesaikan.
Misalnya, orang yang suka mengunyah es batu ternyata mengalami anemia. Maka, solusi terbaiknya adalah meningkatkan zat besi. Bisa melalui suplemen, bisa juga dengan meningkatkan asupan gizi dan nutrisi dengan mengkonsumsi bahan panganan yang kaya zat besi. Misalnya saja seperti daging-dagingan dan juga sayuran hijau.
Jika kebiasaan mengunyah es merupakan indikasi dari gangguan psikologis/pica, sebaiknya ditangani dengan psikoterapi. Pasien dengan pica bisa menjadwalkan konsultasi dengan psikiater. Dengan demikian, pasien dapat mendapatkan terapi yang sesuai.
Di samping itu, kondisi kejiwaan ini dapat ditangani dengan pengobatan. Tentu saja yang disesuaikan dengan gejala-gejalanya.
Akhirnya, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Termasuk kebiasaan mengunyah es. Meskipun menyegarkan, kebiasaan ini memang perlu diwaspadai. Terlebih lagi harus dikembalikan ke kondisi tubuh masing-masing.
Jika memang kebiasaan mengunyah es berpengaruh buruk bagi kesehatan gigi, maka sebaiknya dikurangi. Hal tersebut bertujuan agar gigi tetap sehat. Dengan gigi yang sehat, aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan mudah dan lancar. Ingat selalu! Menjaga lebih baik daripada mengobati. Nikmat sehat baru terasa saat sakit melanda.
Telah diverifikasi,
drg. Siti Nita Zahara


