Banyak orang mengira bahwa kerusakan pada leher gigi hanya disebabkan oleh teknik menyikat yang terlalu keras. Padahal penyebab abrasi gigi jauh lebih kompleks dari sekadar urusan sikat gigi semata.
Kebiasaan sepele yang kita lakukan sehari-hari secara perlahan mengikis lapisan enamel tanpa menimbulkan rasa sakit di awal. Memahami pemicu tersembunyi seperti ini sangat diperlukan agar Anda tidak terlambat menyadari bahwa struktur gigi sudah mulai menipis.
Apa itu Abrasi Gigi?

Bayangkan, enamel gigi Anda seperti perisai yang kuat namun bisa menipis jika terus-menerus “diamplas”. Inilah yang terjadi pada abrasi gigi. Alih-alih bersih, teknik sikat gigi yang terlalu bersemangat justru mengikis leher gigi hingga membentuk cekungan tajam.
Kondisi ini seringkali luput disadari sampai akhirnya Anda merasa ngilu yang menusuk saat menyeruput kopi panas atau soda dingin. Secara tampilan, gigi tidak lagi putih cemerlang melainkan tampak menguning karena lapisan dentinnya mulai terekspos.
Jika dibiarkan, cekungan ini menjadi “sarang” baru bagi sisa makanan dan plak yang ujung-ujungnya memicu karies gigi hingga radang gusi. Masalahnya bukan pada sikat giginya, tapi pada bagaimana kita memperlakukan gigi.
Penyebab Abrasi Gigi

Sama seperti masalah gigi lainnya, abrasi gigi bisa terjadi karena berbagai hal. Namun kebanyakan penyebabnya adalah hal-hal remeh yang terjadi secara berulang-ulang. Oleh karenanya tidak semua orang menyadari kesalahan yang sedang terjadi.
1. Teknik Sikat Gigi yang Terlalu Bersemangat
Banyak dari kita merasa belum “afdol” jika tidak menyikat gigi dengan tenaga penuh. Ada kepuasan tersendiri saat mendengar suara gesekan keras yang dianggap sebagai tanda gigi benar-benar bersih. Padahal, kebiasaan ini adalah tiket utama menuju abrasi gigi.
Masalah sering kali bermula dari pemilihan sikat gigi berbulu kasar yang dipadukan dengan gerakan horizontal (maju-mundur) layaknya sedang menggergaji kayu. Tekanan berlebihan pada area leher gigi yang lapisan pelindungnya paling tipis akan membuatnya cepat aus.
Alih-alih mendapatkan gigi putih, Anda justru sedang mengikis pertahanan alami gigi sendiri. Mulailah beralih ke sikat berbulu halus (soft) dan lakukan gerakan memutar yang lembut. Ingat, kebersihan gigi bukan soal kekuatan, melainkan teknik yang kita gunakan.
2. Bahaya Tersembunyi di Balik Tusuk Gigi
Setelah makan daging atau makanan berserat, refleks pertama kebanyakan orang adalah mencari tusuk gigi. Meski terlihat praktis untuk membersihkan sisa makanan yang “nyelip”, penggunaan alat kayu yang keras ini sering kali menjadi bumerang.
Kesalahan fatal terjadi saat kita memberikan tekanan berlebihan atau melakukan gerakan mengungkit yang keras secara berulang pada celah yang sama. Tekanan dari ujung tusuk gigi yang kaku ini perlahan tapi pasti mengikis enamel di perbatasan gigi dan gusi.
Hal yang sering luput diperhatikan adalah terbentuknya celah permanen atau cekungan tajam yang justru membuat makanan lebih mudah tersangkut. Bahkan kebanyakan abrasi gigi geraham terjadi karena kebiasaan menggunakan tusuk gigi untuk mencongkel sisa makanan.
3. Kebiasaan Mengunyah Tembakau
Mungkin jarang disadari oleh masyarakat modern, namun kebiasaan mengunyah tembakau melalui tradisi menyirih merupakan salah satu penyebab abrasi gigi. Tembakau memiliki tekstur permukaan yang sangat kasar dan berserat.
Hal itu menimbulkan gesekan yang bersifat abrasif yang lama-lama bisa mengikis permukaan gigi. Kebiasaan menyirih yang tidak diimbangi dengan sikat gigi setelahnya bisa membuat gigi mengalami perubahan warna yang sangat pekat.
4. Kebiasaan Menggertakkan Gigi
Pernahkah Anda bangun tidur dengan rahang terasa pegal atau pasangan mengeluh mendengar suara gigi beradu saat Anda terlelap? Inilah yang disebut bruxism atau kebiasaan menggertakkan gigi. Kebiasaan ini sering kali dipicu oleh faktor stres.
Secara tidak sadar, gigi rahang atas dan bawah saling bergesekan dengan tekanan yang sangat kuat. Karena terjadi selama berjam-jam saat tidur, lapisan gigi bisa aus. Sering kali penderita baru menyadari saat gigi mereka terlihat lebih pendek atau rata.
Selain menggertakkan gigi, hal lain yang juga bisa membuat gigi menjadi aus adalah kebiasaan menggigit barang. Kebiasaan sepele ini memberikan tekanan berulang pada permukaan gigi sehingga enamel menipis secara perlahan.
5. Penggunaan Pasta Gigi yang Bersifat Abrasif
Semua orang mendambakan senyum putih cemerlang, itulah sebabnya pasta gigi jenis whitening sangat laris di pasaran. Namun, tidak banyak orang tahu bahwa bahan pemutih dalam pasta gigi bisa menjadi penyebab abrasi gigi karena sifatnya yang abrasif.
Tujuan penggunaan bahan abrasif adalah untuk mengikis noda di permukaan gigi. Jika digunakan secara berlebihan atau dalam jangka panjang, partikel ini tidak hanya mengangkat noda akan tetapi juga ikut mengikis lapisan enamel.
Kondisi ini menjadi sangat berisiko jika Anda sudah memiliki bakat abrasi sebelumnya. Alih-alih menjadi putih, gigi justru akan terlihat makin kuning karena lapisan dentin di bawahnya mulai terekspos.
6. Kebiasaan Minum Kopi dan Soda
Banyak yang keliru menganggap kopi, soda, atau makanan asam sebagai penyebab langsung abrasi. Secara teknis, zat asam tersebut menyebabkan erosi yang melunakkan enamel gigi. Namun, disinilah letak bahayanya.
Saat enamel sedang dalam kondisi “lunak” setelah Anda menyeruput kopi atau minuman bersoda, sikat gigi yang Anda lakukan justru membuat gigi seperti sedang di amplas. Inilah yang sering luput dari perhatian.
Menyikat gigi tepat setelah mengkonsumsi yang asam justru mempercepat pengikisan atau abrasi. Jadi, kombinasi antara kondisi mulut yang asam dan gesekan sikat gigi yang keras adalah duet maut yang membuat leher gigi cepat berlubang.
Cara Menyembuhkan Abrasi Gigi

Lapisan pelindung gigi yang sudah terlanjur terkikis tidak bisa pulih dengan sendirinya secara alami. Oleh karena itu akan jauh lebih baik jika Anda menghindari penyebab abrasi gigi. Namun jika sudah terlanjur terjadi, Anda bisa mengambil beberapa tindakan di bawah:
1. Menghentikan Kebiasaan Buruk
Langkah awal yang harus Anda lakukan adalah memutus rantai penyebabnya. Berhenti menyikat gigi seperti sedang menggergaji kayu dan hindari menggunakan gigi sebagai alat pembuka kemasan. Kesadaran diri adalah kunci agar kerusakan tidak semakin parah.
2. Penambalan Gigi
Untuk lekukan berbentuk V yang belum terlalu dalam, penambalan menggunakan bahan komposit adalah solusinya. Prosedur ini cukup efektif untuk menutupi dentin dan mencegah sisa makanan tersangkut di area yang terkikis.
3. Pemasangan Mahkota Gigi (Crown)
Ketika struktur gigi sudah rusak parah atau hampir habis, pemasangan crown menjadi pilihan terakhir. Mahkota buatan ini akan membungkus seluruh sisa gigi untuk mengembalikan fungsi kunyah sekaligus melindungi saraf gigi dari risiko infeksi.
4. Konsultasi dengan Dokter Gigi
Jangan menebak-nebak tingkat keparahan abrasi Anda. Konsultasi dengan tenaga profesional sangat diperlukan untuk mendapatkan diagnosis akurat. Terutama jika abrasi disebabkan oleh bruxism yang membutuhkan alat bantu khusus.
Bagi warga Palembang, nikmatnya cuko pempek yang asam sering kali membuat enamel gigi melunak. Jika ditambah teknik sikat gigi yang salah, abrasi gigi tak terelakkan. Jangan tunggu sampai ngilu menusuk atau gigi tampak menguning.
Segera konsultasikan kondisi Anda dengan dokter gigi Palembang terpercaya di Zahara Dental Care. Kami bisa membantu memperbaiki lekukan gigi melalui penambalan estetik sekaligus memberikan edukasi teknik menyikat yang benar.
Selain mengatasi abrasi, Anda juga bisa melakukan berbagai perawatan lain seperti pemasangan behel, veneer, bleaching, hingga operasi gigi bungsu. Lindungi senyum Anda dari kerusakan dan ciptakan senyum yang lebih indah bersama Zahara Dental Care!
Telah di verifikasi oleh
drg. Siti Nita Zahara


