Mitos tambal gigi yang beredar di kalangan masyarakat hingga saat ini masih cukup beragam. Mulai dari anggapan bahwa ibu hamil tidak boleh tambal gigi hingga keyakinan bahwa proses tambal gigi bisa membuat lubang menjadi lebih besar.

Menurut penulis, sebagian mitos tersebut muncul karena kurangnya informasi yang benar atau pengalaman seseorang yang kemudian dianggap berlaku untuk semua orang. Padahal, prosedur tambal gigi merupakan salah satu perawatan yang umum dilakukan.

Mitos dan Fakta Mengenai Tambal Gigi

Fakta tentang tambal gigi, Sumber: gentlecaredentistry.org
Fakta tentang tambal gigi, Sumber: gentlecaredentistry.org

Sebelum mempercayai berbagai informasi yang belum tentu benar, ada baiknya Anda memahami beberapa fakta medis di balik mitos-mitos yang sering beredar di masyarakat mengenai tambal gigi.

1. Perawatan Gigi Atas Bisa Menyebabkan Kebutaan

Di tengah berbagai mitos tambal gigi yang masih beredar, salah satu yang cukup sering terdengar adalah anggapan bahwa perawatan pada gigi bagian atas dapat mempengaruhi saraf mata hingga menyebabkan gangguan penglihatan. 

Menurut penulis, mitos seperti ini masih bertahan karena banyak orang belum memahami bagaimana sistem saraf pada tubuh bekerja. Faktanya, tindakan tambal gigi tidak memiliki hubungan langsung dengan saraf yang berperan dalam fungsi penglihatan. 

Secara anatomi, gigi dan jaringan di sekitarnya dipersarafi oleh saraf trigeminal (saraf kranial ke-V), sedangkan kemampuan melihat dikendalikan oleh saraf optik (saraf kranial ke-II). Kedua saraf tersebut memiliki jalur dan fungsi yang berbeda.

Jadi, prosedur tambal gigi tidak akan menyebabkan kebutaan atau kerusakan pada mata. Hal yang sama juga berlaku pada tambal gigi sementara yang biasanya dilakukan sebagai tahap awal sebelum perawatan lanjutan. 

Material tambalan maupun prosedur yang dilakukan dokter gigi tidak akan mempengaruhi saraf penglihatan. Oleh karena itu, Anda tidak perlu merasa khawatir untuk menjalani perawatan gigi hanya karena mendengar informasi yang belum terbukti kebenarannya. 

2. Ibu Hamil Tidak Boleh Menjalani Tambal Gigi

Salah satu mitos tambal gigi yang masih cukup sering penulis dengar adalah anggapan bahwa ibu hamil tidak boleh menjalani perawatan gigi apapun, termasuk tambal gigi. Akibatnya, tidak sedikit calon ibu yang memilih menahan rasa nyeri atau membiarkan gigi berlubang. 

@zaharadental.palembang Yuk segera konsultasi masalah gigi kalian sekarang 🥰 #tambalgigi #palembang #fyp #fyppppppppppppppppppppppp #doktergigipalembang ♬ suara asli – Zahara Dental Care

Menurut penulis, keputusan tersebut justru dapat menimbulkan masalah yang lebih besar, terutama jika kerusakan gigi terus berkembang hingga menyebabkan infeksi. Faktanya, tambal gigi umumnya aman dilakukan selama masa kehamilan.

Sebaiknya perawatan gigi dilakukan pada trimester kedua ketika kondisi ibu maupun janin sudah cukup stabil. Bahkan, menjaga kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan merupakan hal yang sangat penting. Penulis pribadi berpendapat bahwa rasa khawatir memang wajar.

Meski wajar merasa cemas, jangan sampai hal itu menghambat Anda mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Dengan konsultasi yang tepat kepada dokter gigi dan dokter kandungan, prosedur tambal gigi dapat dilakukan secara aman. 

Jadi, jangan mudah percaya pada mitos tanpa mencari informasi medis yang valid terlebih dahulu. Karena jika informasi yang keliru terus dipercaya, seseorang bisa saja menunda perawatan yang sebenarnya dibutuhkan. 

3. Proses Tambal Justru Membuat Lubang Menjadi Lebih Besar

Banyak orang yang masih percaya mitos tambal gigi bahwa proses penambalan justru membuat lubang pada gigi semakin besar. Menurut penulis, mitos ini muncul karena banyak orang hanya melihat hasil akhirnya tanpa memahami tahapan perawatan yang dilakukan.

Ketika dokter membersihkan jaringan gigi yang sudah rusak akibat karies, ukuran lubang memang terkadang terlihat lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dari sudut pandang pasien, kondisi tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa dokter sengaja memperbesar kerusakan.

Padahal, kenyataannya dokter sedang mengangkat seluruh bagian gigi yang telah terinfeksi agar bakteri tidak terus berkembang di bawah tambalan. Penulis pribadi pernah mendengar keluhan serupa dari beberapa orang.

Mereka merasa kaget setelah melihat bentuk giginya sebelum ditambal. Setelah dijelaskan oleh dokter gigi, mereka baru memahami bahwa prosedur tersebut justru bertujuan menyelamatkan struktur gigi yang masih sehat. 

Jadi, mitos ini muncul karena banyak orang belum memahami proses penambalan gigi secara menyeluruh. Padahal, tindakan tersebut bertujuan membersihkan bagian yang rusak, menghentikan penyebaran karies dan menjaga gigi tetap sehat lebih lama.

4. Tambal Gigi Sementara Sama Saja dengan Tambalan Permanen

Tambal gigi sementara, Sumber: tarsdentalcare.com
Tambal gigi sementara, Sumber: tarsdentalcare.com

Faktanya, tambal gigi sementara dan tambalan permanen memiliki fungsi, bahan, serta daya tahan yang berbeda. Tambal gigi sementara biasanya digunakan sebagai solusi jangka pendek, misalnya untuk melindungi gigi setelah perawatan tertentu.

Atau bisa juga dilakukan karena sambil menunggu tindakan lanjutan. Material yang digunakan umumnya lebih mudah dilepas oleh dokter gigi pada kunjungan berikutnya. Sementara itu, tambalan permanen dirancang untuk bertahan lebih lama.

Tambalan permanen juga mampu menahan tekanan saat mengunyah. Bahan yang digunakan juga lebih kuat seperti resin komposit, glass ionomer tertentu, atau material lain yang disesuaikan dengan kondisi gigi pasien.

Jadi, tambal gigi sementara tidak seharusnya dianggap sebagai pengganti tambalan permanen. Jika dibiarkan terlalu lama tanpa perawatan lanjutan, risiko kerusakan atau kebocoran tambalan bisa meningkat.

Menurut penulis, mitos ini muncul karena dari luar keduanya terlihat sama-sama “menutup lubang gigi”. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, fungsi dan ketahanannya sangat berbeda. Oleh karena itu, lakukan kontrol sesuai jadwal yang diberikan dokter.

5. Tambal Gigi Bisa Bertahan Selamanya

Faktanya, tambalan gigi tidak dapat bertahan selamanya. Seiring berjalannya waktu, material tambalan akan mengalami penurunan kualitas akibat tekanan saat mengunyah, perubahan suhu dari makanan dan minuman atau akibat faktor usia pemakaian yang tidak bisa dihindari.

Beberapa kebiasaan sehari-hari, seperti bruxism, menggigit benda keras, dan mengunyah es, dapat memberikan tekanan berlebih yang mempercepat kerusakan tambalan. Dalam beberapa kasus, tambalan bahkan dapat retak atau terlepas sebelum mencapai usia pakainya.

Oleh karena itu, tambalan gigi tetap perlu diperiksa secara berkala oleh dokter gigi. Pemeriksaan rutin memungkinkan dokter mendeteksi lebih awal jika terdapat celah, keausan, atau tanda-tanda kerusakan yang berpotensi menimbulkan masalah baru pada gigi.

Banyak orang yang masih percaya mitos tambal gigi bahwa setelah ditambal, masalah tersebut selesai untuk selamanya. Anggapan ini muncul karena banyak orang mengira tambalan berfungsi seperti “gigi baru” yang tidak memerlukan perawatan lagi.

Padahal, setiap jenis tambalan memiliki masa pakai yang berbeda tergantung material dan cara perawatannya. Dengan menjaga kebersihan mulut, mengurangi kebiasaan yang merusak gigi dan rutin kontrol ke dokter gigi, usia tambalan dapat bertahan lebih lama.

Berbagai mitos yang beredar sering kali membuat seseorang ragu untuk menjalani perawatan gigi yang sebenarnya dibutuhkan. Padahal, dengan informasi dan penanganan yang tepat, tindakan seperti penambalan gigi dapat dilakukan dengan aman dan nyaman. 

Zahara Dental Care, Sumber: zaharadental.com
Zahara Dental Care, Sumber: zaharadental.com

Jika Anda mengalami gigi berlubang atau ingin memastikan kondisi kesehatan gigi dan mulut tetap terjaga, jangan tunda untuk berkonsultasi. Bagi Anda yang sedang mencari dokter gigi Palembang, Zahara Dental Care siap membantu.

Zahara Dental Care menyediakan layanan pemeriksaan, penambalan gigi, hingga berbagai perawatan gigi lainnya. Dengan penanganan yang tepat, kesehatan gigi dapat terjaga lebih maksimal untuk jangka panjang. 

Telah di verifikasi oleh 

drg. Siti Nita Zahara

Whatsapp